Kamis, 21 Juni 2012

MAKALA SEJARAH RUNTUHNYA UNISOVIET

Bab I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Setelah jatuhnya Uni Soviet, Rusia menjadi negara berdiri sendiri pada Desember 1991. Walaupun Rusia dianggap sebagai penerus Uni Soviet, Rusia kehilangan kekuatan ekonomi dan militernya. Etnis Rusia adalah mayoritas, yaitu 70%, tetapi banyak perbedaan etnis dan agama yang mengancam kesatuan Rusia.

Pada era Soviet, sekitar 100 etnis diberikan daerah masing-masing yang memiliki beberapa hak-hak propinsi khusus. Dan setelah jatuhnya Uni Soviet, beberapa daerah ini menginginkan otonomi khusus, atau ingin berpisah dari Rusia.

Presiden Boris Yeltsin memasukkan masalah ini ke dalam kampanye pemilihan presiden 1990, dengan janji bahwa masalah ini akan segera diselesaikan. Dibutuhkan suatu hukum yang jelas untuk mengatur hak-hak subyek federal tersebut. Peraturan hukum baru ini dicanangkan oleh Yeltsin dan Ruslan Khasbulatov pada 31 Maret 1992, yaitu Perjanjian Federasi yang disetujui oleh 86 dari 88 subyek federal. Mayoritas subyek federal yang menyetujui perjanjian ini merelakan otonomi luas atau kemerdekaan, dengan digantikan otonomi daerah dan hak-hak perpajakan khusus.

Dua subyek federal yang tidak menanda-tangani perjanjian ini adalah Chechnya dan Tatarstan. Tetapi kemudian pada tahun 1994, Presiden Yeltsin dan presiden Tatarstan, Mintimer Şäymiev menanda-tangani perjanjian khusus yang memberikan Tatarstan otonomi luas.

Pada akhirnya tinggal Chechnya yang belum meyetujui sebuah perjanjian. Presiden Yeltsin dan pemerintahan lokal Chechnya juga tidak menghasilkan negosiasi yang bermanfaat, dan situasi ini mulai berubah menjadi konflik bersenjata.


1.2 maksud dan tujuan ;

- mengenali lebih dekat bagaimana Uni Soviet sebagai negara adidaya bisa jatuh
dan berdiri berdiri sendiri pada Desember 1991sendiri dengan
- mempelajari lebih detail kehancuran Uni Soviet sebagai negara adi daya
- untuk mengenali lebih lanjut sebab-sebab jatuhnya Negara adi daya tersebut ?
- Negara mana yang menjadi penerus Uni Soviet ?
- menelaah lebih spesifik di berlakukannya ‘’undang-undang koperasi ‘’?




1
1.4 manfaat penelitian

- sebagai referensi bagi pembaca untuk memahami lebih lanjut jatuhnya Uni Soviet
- makalah ini dapat memberikan ilmu pengetahuan sejarah jatuhnya Uni Soviet
- mengetahui lebih lanjut Kesewenangan Amerika Serikat Selama hampir dua dekade,
lembaga-lembaga internasional, termasuk Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa
Bangsa, tak mampu menahan tindakan-tindakan sepihak Amerika untuk menghancurkan
pemerintah-pemerintah yang tak dikuasainya. Amerika adalah polisi dan penguasa dunia
yang tak ada tandingannya. Ketika Bush menyatakan follow me or against me, tak ada
satu pun negara di dunia yang memprotesnya





2
BAB II
LANDASAN TEORITIS

2.1 kapitalisme

Ketika arogansi AS menemukan pembenarannya pada tesis Fukuyama, di berbagai bagian dunia muncul antitesis-antitesis yang mencoba melawan dominasi Abang Sam itu. Setelah hancurnya Uni Soviet, Rusia--negara terbesar dalam "uni" tersebut--mulai menunjukkan kekuatannya. Putin dan Medvedev, dua pemimpin Rusia, berhasil membangun kembali kekuatan negaranya sehingga mampu "menghadang" hegemoni senjata nuklir AS di Eropa. Di pihak lain, kekuatan ekonomi serta militer India dan Cina bangkit dan mampu menahan dominasi Abang Sam. Sementara itu, Ahmadinajed dari Iran dan Hugo Chavez dari Venezuela--dua negara kaya minyak--makin berani menantang dominasi AS.

Fenomena seperti di atas membuat Robert Kagan melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang akan mengubah peta dunia ke depan, sekaligus menyanggah tesis Fukuyama. Dalam bukunya yang kontroversial, The Return of History and the End of Dreams (2008), Kagan menyatakan, kejayaan demokrasi liberal setelah kejatuhan Uni Soviet dan kemakmuran dunia di bawah sistem ekonomi kapitalis kini telah berakhir.

Dalam bukunya, Kagan menunjukkan otokrasi sebagai alternatif bagi demokrasi liberal kini mulai bermunculan dengan menguatnya ekonomi Cina dan Rusia. Berhasilnya pembangunan ekonomi Cina dan Rusia dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa otokrasi ternyata mempunyai tempat yang terhormat di mata dunia, tulis Kagan. Di pihak lain, kini muncul banyak friksi di antara dua kampiun demokrasi liberal, AS dan Eropa Barat. Berbagai kebijakan politik dan ekonomi AS, seperti invasi Irak dan subsidi pertanian, mendapat tantangan keras dari negara-negara Eropa Barat yang selama ini menjadi epigon AS.

Fenomena perlawanan terhadap dominasi AS itu makin kuat lagi setelah datangnya krisis ekonomi global akhir September 2008 yang dipicu oleh bangkrutnya sejumlah institusi keuangan di AS. Seperti kita ketahui, hancurnya sejumlah lembaga keuangan AS itu akibat kegagalan kredit perumahan standar rendah (subprime mortgage) sebesar US$ 6 triliun. Inilah yang mengakibatkan kehancuran berantai sejumlah lembaga keuangan dan bursa-bursa saham dunia.




3
Ekonomi AS, yang--menurut pemenang Nobel ekonomi Stiglitz--merupakan monumen ekonomi global, sudah kehilangan kredibilitasnya. Raksasa ekonomi AS telah limbung dan membutuhkan transfusi "darah segar" yang amat besar. Bailout US$ 700 miliar ke pasar finansial Amerika--sebuah kebijakan yang antitesis terhadap prinsip-prinsip dasar ekonomi pasar--terpaksa dilakukan Bush untuk mencegah kejatuhan bursa-bursa AS dan dunia. Hasilnya: bailout itu ternyata tak berhasil mengangkat jatuhnya bursa-bursa AS dan dunia.

Masihkah AS menjadi negeri terbesar dan mengendalikan dunia setelah krisis ekonomi global ini? Tidak! Menurut Kagan, dunia justru akan kembali ke lembah pertarungan ambisi dan berbagai kepentingan nasional--suatu fenomena abad ke-19 ketimbang fenomena tahun 1990-an, tatkala AS menjadi pemenang dalam Perang Dingin setelah jatuhnya Uni Soviet. Sementara dalam Perang Dingin pengelompokan itu menjadi dua kutub--pro-AS dan pro-Uni Soviet--di era supremasi AS di dunia ini hanya ada satu negara yang paling berkuasa: AS. "Follow US or against US" yang dikumandangkan Bush menjadi ancaman arogan yang menakutkan negara mana pun di dunia.

Kini, setelah datangnya krisis global, pengelompokan negara-negara di dunia akan berubah lagi karena ancaman Bush sudah kehilangan daya. Sejumlah negara kuat di Asia, Eropa, dan Amerika Latin akan membentuk keseimbangan baru dengan pusat-pusatnya tersebar di Cina, India, Jepang, Rusia, Brasil, dan Argentina. Kekuatan dunia makin tersebar dan AS tidak punya lagi kekuatan untuk menjadi polisi tunggal dunia. Fenomena munculnya kekuatan-kekuatan dunia baru tersebut kini mulai terlihat di KTT Asia-Eropa di Beijing, yang berakhir 26 Oktober 2008.







4
2.2 krisis global

Krisis global yang dipicu kredit macet perumahan di AS ini makin meyakinkan asumsi yang beredar gamang selama ini bahwa AS ternyata bukan segalanya. Kebangkitan ekonomi Cina, India, dan Rusia makin menumbuhkan keyakinan tersebut.

Dalam KTT Asia-Eropa (Asem) di Beijing yang baru lalu, misalnya, sejumlah negara Asia dan Eropa mulai berani menantang dominasi AS. Ini terlihat dari salah satu hasil KTT: kesepakatan untuk merombak sistem transaksi keuangan dunia yang selama ini menggunakan mata uang dolar AS. Ada 43 negara Asia dan Eropa yang sepakat akan meninggalkan arsitektur keuangan dunia yang selama ini dikendalikan AS tersebut. Dari KTT itu terlihat, dunia mulai melihat adanya alternatif arsitektur keuangan baru yang lebih punya masa depan ketimbang dolar AS. Euro (Eropa), yen (Jepang), bahkan yuan (Cina) dan rupee (India), bisa menjadi alternatif tersebut.

Hasil KTT Asem di atas memang menampar AS. Namun, tamparan itu masih belum imbang dibanding arogansi AS yang selama ini mengacak-acak dunia. Kita tunggu saja datangnya era baru tanpa dominasi dolar AS, IMF, dan World Bank yang telah membangkrutkan ekonomi dunia. *









5
Bab III
pembahasan masalah

3.1 Munculnya Gorbachev

Meskipun pembaruan di Uni Soviet terhalang antara 1969–1982, suatu peralihan generasi memberikan momentum baru untuk pembaruan itu. Perubahan-perubahan dalam hubungan dengan Amerika Serikat mungkin juga merupakan pendorong bagi pembaruan. Sementara Jimmy Carter secara resmi mengakhiri kebijakan Détente setelah campur tangan Soviet di Afganistan, ketegangan-ketegangan antara Timur dan Barat pada masa jabatan pertama Presiden AS Ronald Reagan (1981–1985) meningkat ke level yang baru yang tidak pernah terjadi sejak krisis misil Kuba 1962.

Setelah kemacetan selama bertahun-tahun, ‘’apparatchik’’ Komunis muda yang “berpikiran baru” mulai muncul. Setelah kematian Konstantin Chernenko yang lanjut usia, Politbiro mengangkat Mikhail Gorbachev sebagai Sekretaris Jenderal Uni Soviet pada Maret 1985, menandai bangkitnya generasi kepemimpinan yang baru. Di bawah Gorbachev, yang relatif masih muda, para teknokrat yang berorientasi pembaruan, yang telah memulai kariernya pada puncak "de-Stalinisasi" di bawah Nikita Khrushchev (1953-1964), dengan segera mengonsolidasikan kekuasaan di ling PKUS, memberikan momentum baru untuk liberalisasi politik dan ekonomi, dan dorongan untuk mengembangkan hubungan-hubungan yang lebih hangat dan perdagangan dengan Barat.

Pada saat Gorbachev memperkenalkan proses yang akan menyebabkan runtuhnya ekonomi komando administrative Soviet melalui program-programnya: glasnost (keterbukaan politik), perestroika (restrukturisasi ekonomi), dan uskoreniye (percepatan pembangunan ekonomi), ekonomi Soviet menderita karena inflasi tersembunyi dan kekurangan pasokan yang terjadi di mana-mana yang diperparah oleh semakin meningkatnya pasar gelap yang terbuka yang menggerogoti ekonomi resmi. Selain itu, biaya status sebagai negara adikuasa –militer, KGB, subsidi bagi negara-negara klien –sudah sangat berlebih-lebihan, melampaui ekonomi Soviet. Gelombang baru industrialisasi yang didasarkan pada teknologi informasi telah membuat Uni Soviet kelabakan mencari teknologi barat dan kredit untuk mengatasi keterbelakangannya yang kian menjadi-jadi.

Undang-undang Koperasi yang diberlakukan pada Mei 1988 barangkali adalah yang paling radikal di antara semua langkah pembaruan ekonomi pada masa tahap awal era Gorbachev. Untuk pertama klainya sejak Kebijakan Ekonomi Baru Vladimir Lenin, undang-undang memungkinkan pemilikan pribadi bisnis dalam sektor-sektor jasa, manufaktur, dan perdagangan luar negeri. Di bawah aturan ini, restoran-restoran koperasi, toko-toko dan para pengusaha manufaktur menjadi bagian dari wajah Soviet.



6
Glasnost memberikan kebebasan berbicara yang lebih besar. Pers menjadi jauh lebih merdeka, dan ribuan tahanan politik dan banyak pembangkang di bebaskan. Sementara tujuan utama Gorbachev dalam mengadakan glasnost adalah untuk menekan kaum konservatif yang menentang kebijakan-kebijakan restrukturisasi ekonominya, ia pun berharap melalui berbagai keterbukaan, debat dan partisipasi, rakyat Soviet akan mendukung inisiatif-inisiatif pembaruannya.

Pada Januari 1987, Gorbachev menyerukan diadakannya demokratisasi: memperkenalkan unsur-unsur demokratis seperti misalnya pemilu dengan banyak kandidat di dalam proses politik Soviet. Pada Juni 1988, dalam Konferensi Partai ke-19 dari PKUS, Gorbachev meluncurkan pembaruan-pembaruan radikal yang dimaksudkan untuk mengurangi kontrol partai terhadap aparat-aparat pemerintahan. Pada Desember 1988, Dewan Soviet Tertinggi Soviet menyetujui dibentuknya suatu Kongres Deputi Rakyat yang sebelumnya telah ditetapkan oleh amandemen konstitusi sebagai dewan legislative Uni Soviet yang baru. Pemilihan umum untuk anggota kongres diadakan di seluruh Uni Soviet pada Maret dan April 1989. Pada 15 Maret 1990 Gorbachev terpilih sebagai Presiden eksekutif pertama Uni Soviet.


Upaya-upaya Gorbachev untuk merampingkan sistem komunis menawarkan harapan, namun akhirnya terbukti tidak dapat dikendalikan dan mengakibatkan serangkaian peristiwa yang akhirnya ditutup dengan pembubaran imperium Soviet. Kebijakan-kebijakan yang mulanya dimaksudkan sebagai alat untuk merangsang ekonomi Soviet, perestroika dan glasnost segera menimbulkan akibat-akibat yang tidak diharapkan.

Pengenduran sensor di bawah glasnost mengakibatkan Partai Komunis kehilangan genggamannya yang mutlak terhadap media. Tak lama kemudian, dan yang akibatnya mempermalukan pemerintah, media mulai menyingkapkan masalah-masalah sosial dan ekonomi yang parah yang telah lama disangkal dan ditutup-tutupi oleh pemerintah Soviet. Masalah-masalah seperti perumahan yang buruk, alkoholisme, penyalahgunaan obat-obatan, polusi, pabrik-pabrik yang sudah ketinggalan zaman dari masa Stalin, dan korupsi kecil-kecilan hingga yang besar-besaran, yang kesemuaya selama ini telah diabaikan oleh media resmi, mendapatkan perhatian yang semakin besar. Laporan-laporan media juga menyingkapkan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Stalin dan rezim Soviet, seperti misalnya Gulag dan Pembersihan Besar yang diabaikan oleh media resmi. Lebih dari itu, perang di Afganistan yang berkelanjutan dan kekeliruan di dalam penanganan kecelakaan Chernobyl 1986 lebih jauh merusakkan kredibilitas pemerintahan Soviet pada masa ketika ketidakpuasan kian meningkat.







7
Secara keseluruhan, pandangan yang sangat positif mengenai kehidupan Soviet yang telah lama disajikan kepada publik oleh media resmi, dengan cepat menjadi rontok, dan aspek-aspek kehidupanu negatif ditampilkan ke permukaan. Hal ini menggerogoti keyakinan publik terhadap sistem Soviet dan merontokkan basis kekuasaan social Partai Komunis, mengancam identitas dan integritas Uni Soviet sendiri.

Pertikaian di antara negara-negara anggota Pakta Warsawa dan ketidakstabilan dari sekutu-sekutu baratnya, yang pertama-tama diperlihatkan oleh bangkitnya Lech Wałęsa pada 1980 ke tampuk pimpinan serikat buruh Solidaritas berlangsung cepat, sehingga membuat Uni Soviet tidak mampu mengandalkan negara-negara satelitnya untuk melindungi perbatasannya, sebagai negara-negara peredam. Pada 1989, Moskwa sudah meninggalkan Doktrin Brezhnev dan lebih memilih kebijakan non-intervensi dalam urusan-urusan dalam negeri sekutu-sekutu Eropa Timurnya, yang dengan fatal membuat rezim-rezim Eropa Timur kehilangan jaminan bantuan dan intervensi Soviet apabila mereka menghadapi pemerontakan rakyatnya. Perlahan-lahan, masing-masing negara Pakta Warsawa menyaksikan pemerintahan Komunis mereka kalah dalam pemilihan-pemilihan umum, dan dalam kasus Rumania, munculnya suatu pemberontakan dengan kekerasan. Pada 1991, pemerintahan-pemerintahan komunis Bulgaria, Cekoslowakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia dan Rumania yang dipaksakan setelah Perang Dunia II runtuh sementara revolusi melanda Eropa Timur.

Uni Soviet juga mulai mengalami pergolakan ketika akibat-akibat politik dari glasnost dirasakan getarannya di seluruh negeri. Meskipun dilakukan upaya-upaya untuk meredamnya, ketidakstabilan di Eropa Timur mau tidak mau menyear ke negara-negara di lingkungan Republik Sosialis Uni Soviet. Dalam pemilu-pemilu untuk dewan-dewan regional di republik-republik Uni Soviet, kaum nasionalis maupun para tokoh pembaruan yang radikal menyapu kursi di dewan. sementara Gorbachev telah memperlemah sistem penindasan politik internal, kemampuan pemerintahan sentral Moskwa untuk memaksakan kehendaknya pada republik-republik anggota RSUS pada umumnya telah diperlemah.

Bangkitnya nasionalisme di bawah glasnost segera membangkitkan kembali ketegangan-ketegangan etnis yang bergolak di berbagai republik Soviet, sehingga semakin mendiskreditkan cita-cita tentang persatuan rakyat Soviet. Sebuah contohnya terjadi pada Februari 1988, ketika pemerintahan di Nagorno-Karabakh, suatu wilayah yang didominasi oleh etnis Armenia di Republik Azerbaijan, meluluskan sebuah resolusi yang menyerukan unifikasi dengan Republik Soviet Sosialis Armenia. Kekerasan terhadap orang-orang Azerbaijan setempat dilaporkan di televisi Soviet, sehingga menimbulkan pembantaian terhadap orang-orang Armenia di kota Sumgait, di Azerbaijan.






8
3.2 ketidakpuasan publik

Ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi-kondisi ekonomi, yang menjadi lebih berani karena kebebasan oleh glasnost, jauh lebih luas daripada yang sebelumnya pada masa Soviet. Meskipun perestroika dianggap berani dalam konteks sejarah Soviet, upaya-upaya Gorbachev untuk melakukan pembaruan ekonomi tidak cukup radikal untuk memulai kembali ekonomi negara yang sangat lesu pada akhir 1980-an. Upaya-upaya pembaruan mengalami berbagai terobosan dalam desentralisasi, namun Gorbachev dan timnya sama sekali tidak menyinggung unsur-unsur fundamental dari sistem Stalinis, termasuk pengendalian harga, mata uang rubel yang tidak dapat dipertukarkan, tidak diakuinya pemilikan pribadi, dan monopoli pemerintah atas sebagian terbesar sarana produksi.

Pada 1990 pemerintah Soviet praktis telah kehilangan seluruh kendali terhadap kondisi-kondisi ekonomi. Pengeluaran pemerintah meningkat dengan tajam karena semakin meningkatnya usaha-usaha yang tidak menguntungkan yang membutuhkan dukungan negara sementara subsini harga konsumen juga berlanjut. Perolehan pajak menurun karena perolehan dari penjualan vodka merosot drastic karena kampanye anti alkohol dan karena pemerintahan republik dan pemerintah-pemerintah setempat menahan perolehan pajak dari pemerintah pusat di bawah semangat otonomi regional. Penghapusan kontrol pemerintah pusat terhadap keputusan-keputusan produksi, khususnya dalam sektor barang-barang konsumen, menyebabkan runtuhnya hubungan pemasok-produsen sementara hubungan yang baru tidak terbentuk. Jadi, bukannya merampingkan sistem, program desentralisasi Gorbachev menyebabkan kemacean-kemacetan produksi yang baru.

Gorbachev menuduh Boris Yeltsin lawan lamanya dan presiden Rusia pertama pada masa pasca-Soviet, telah mencabik-cabik negara itu untuk mengutamakan kepentingan-kepentingan pribadinya sendiri.

Pada 7 Februari 1990 Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet setuju untuk melepaskan monopoli atas kekuasaan. Republik-republik anggota Uni Soviet mulai menegaskan kedaulatan nasional mereka terhadap Moskwa, dan mulai melancarkan "perang undang-undang" dengan pemerintah pusat di Moskwa. Dalam hal ini, pemerintahan republik-republik anggota Uni Soviet membatalkan semua undang-undang negara kesatuan apabila undang-undang itu bertentangan dengan undang-undang lokal, menegaskan kendali mereka terhadap ekonomi lokal dan menolak membayar pajak kepada pemerintah pusat di Moskwa. Pergumulan ini menyebabkan macetnya ekonomi, karena garis pasokan dalam ekonomi rusak, dan menyebabkan ekonomi Soviet semakin merosot.






9
BAB III
PENUTUP



4.2 Saran-saran;

- AS sudah selayaknya menjadi "polisi dunia" karena kemenangan ideologi yang dikibarkannya. Arogansi duo Bush yang ingin menguasai suplai minyak dunia di Timur Tengah dengan mengobarkan Perang Teluk I dan II merupakan tindakan yang kompatibel dengan tesis Fukuyama tersebut.

- Selama hampir dua dekade, lembaga-lembaga internasional, termasuk Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, tak mampu menahan tindakan-tindakan sepihak Amerika untuk menghancurkan pemerintah-pemerintah yang tak dikuasainya. Amerika adalah polisi dan penguasa dunia yang tak ada tandingannya. Ketika Bush menyatakan follow me or against me, tak ada satu pun negara di dunia yang memprotesnya.



4.1 kesimpulan

- Demikianlah makalah tentang sejarah Jatuhnya Uni Soviet sebagai pijakan dan metode penggalian dalam penyimpulan bagaimana Negara adi daya tersebut menjadi terpecah belah menjadikan Rusia sebagai penerus Uni Soviet.jatuhnya uni soviet mengakibatkan Amerika Serikat sebagai Negara adi daya baru menggantikan Uni Soviet.




10
DAFTAR PUSTAKA



Fukuyama.2008. The Return of History and the End of Dreams.jepang ; galamedia.

Rahrdja,pratama.1986.hilan
gnya Uni Soviet dalam peradaban dunia.
Yogyakarta;Intermedia

Negoro,st harapan,b.1991.jatuhnya Uni Soviet.Balai Aksara.

Nugraha,Deni.1991.munculnya Gorbachev.Jakarta;Gramedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar